Kritik terhadap Mahalnya ESQ
Gara-gara mengikuti pelatihan ESQ, temenku jadi bertambah "aneh". Mungkin itu hasil perubahan kali. Tapi bagiku, mengingatkan kalau aku pernah punya buku ESQ sampai dua edisi. Cuman masih ada hal yang mengganjal tentang ESQ. Kenapa harus mahal, emang ilmu bisa dipatenkan milik seseorang sehingga orang tersebut mempunyai hak istimewa mengais rupiah dengan ilmu tersebut.
Sebagai seorang guru honorer rasanya mustahil untuk dapat mengikuti ESQ dengan harga jutaan. Kalau sekedar membayar segitu doank, gak papa kok, cuman bisa enggak makan 3 bulan lebih. Lumayan mahalnya biaya ESQ mungkin bisa dipahami oleh para pejabat atau pengusaha. Melihat ilmu yang ditransfer memang layak dihargai.
Namun bukankah kita juga wajib menyampaikan ilmu tersebut kepada semua orang. Cobalah tengok siapa yang menjadi alumninya. Apakah para tukang becak dan kuli bangunan ataukah para pejabat, jenderal dan pengusaha atau mahasiswa. Para alumni ESQ sudah mendapatkan pencapaian yang luar biasa. Bisakah seorang kuli bangunan merasakan hal yang sama ketika mengikuti training ini ?
Jawabannya hanya bisa keluar dari pemikiran Ari Ginanjar Agustian sang pencetus ESQ. Inilah tantangan terbaru yang harus dipecahkan. Membuat seseorang dengan pendidikan yang rendah untuk dapat mengalami pengalaman rohani yang luar biasa sama seperti yang dialami orang lain dengan pendidikan yang jauh lebih tinggi. Apakah pelatihan ESQ mampu bersifat universal ?
2 comments:
ttraining ESQ gratis untuk para guru..
saat ini sudah mencapai 52.000 guru yang ikud ESQ secara cuma-cuma.
biaya mahal,,karena untuk biaya sewa tempat,makan peserta,kursi,soundsystem,lcd projector,layar,sertifikat,training kit,dan ESQ punya karyawan sebanyak 400 orang,jika dalam tiap individu terdapat 3 anggota keluarga,,maka ESQ menafkahi 1200 orang.
trima kasih.
wass
salam 165
Assalammualaikum,
Insya Allah jika bapak tetap istiqomah, jalan pasti ada saja dari Allah untuk mengikuti training ini.
Dan insya Allah setahu saya ESQ juga berkomitmen untuk lebih luas lagi untuk mengadakan training Gratis diluar training ESQ Peduli Pendidikan, masih ada Peduli Kesehatan, Peduli Gempa, Peduli Tsunami, Peduli Penghuni Penjara atau Training ESQ Peduli Dhuafa seperti berita dibawah ini :
Training ESQ Peduli Dhuafa Lentera 165 : Ketika Tukang Bakso Keliling dan Petani Sayur Ikut Training ESQ
“Bagus sekali. Saya tidak menyangka dapat ikut acara ini, sudah diberi bantuan dana, eh ikut pelatihan juga. Saya jadi tahu siapa Tuhan itu,” ujar Sopian, warga Desa Cidereum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, dengan logat sunda yang kental. Dia bersama 348 orang lainnya menjadi peserta Training ESQ Peduli Dhuafa Lentera 165, di Auditorium Fakultas Peternakan IPB, 28-29 Agustus .
Sopian tak pernah bermimpi bisa ikut kegiatan semacam itu. “Saya hanya petani sayur di kampung,” katanya polos. Peserta pelatihan kali ini memang berbeda dari biasanya. Tak ada pimpinan BUMN, direktur utama perusahaan besar, manajer, tokoh nasional atau selebritis yang sering menjadi peserta training ESQ.
Selain petani sayur, sebagian besar peserta pelatihan yang baru kali pertama dilakukan itu adalah pedagang asongan, pengrajin pot tanaman, penjual baju, pedagang barang-barang kelontong, dan tukang bakso.
Kesederhanaan begitu tampak. Ruang pelatihan hanya beralaskan karpet yang tak terlalu tebal. Pendingin ruangan tak sedingin seperti di tempat pelaksanaan training ESQ lainnya. Banyak peserta juga mengenakan pakaian seadanya: kaos, yang sudah terlihat tipis dan lusuh.
Timgkah polah mereka pun bisa mengundang gelak tawa. Ada seorang peserta wanita yang mengenakan pakaian seperti hendak pergi ke pesta pernikahan. Ada juga peserta dengan mimic muka dan gerak tubuh yang lucu bergegas ke kamar kecil karena tak kuat menahan dingin. Beberapa kali dia terlihat mondar-mandir ke kamar mandi.
Training ESQ Peduli Dhuafa yang diselenggarakan oleh ESQ Leadership Center dan FKA ESQ itu, diperuntukkan bagi masyarakat binaan peserta program Lentera 165, singkatan dari Langkah Ekonomi Sejahterakan Dhuafa. Penerimanya kaum dhuafa yang produktif dengan modal kecil.
Mereka diberi pinjaman dana bergulir tanpa bunga dan tanpa agunan. Para penerima ini nantinya akan dipantau dan dibimbing oleh para pemandu. Program yang mulai berjalan November 2006 itu memiliki dana awal sebesar Rp 500.000.000. Uang tersebut merupakan sumbangan pribadi pimpinan ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar.
Tokoh Perubahan 2005 versi Republika itu kemudian melelang mobilnya saat Temu Alumni ESQ Nasional Ke-2 di Bukittinggi, Sumatera Barat, akhir Januari lalu. Uang hasil lelang tersebut yaitu Rp 600.165.000, sebagian besar diberikan Ary untuk Lentera 165. “Uang ini tak seberapa jika dibandingkan dengan kesulitan yang saudara-saudara kita hadapi,” ujar Ary.
Hingga kini, dana yang telah disalurkan Lentera 165 sebesar Rp 424.725.000,- untuk masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Bogor.
Menurut Manager Program Lentera 165 Yusnir Darwis, masyarakat binaan tersebut perlu diikutkan training ESQ,”Agar mereka memiliki kecerdasan emosi dan spiritual, sehingga tak lagi miskin secara ekonomi dan tak lagi miskin secara moral,” ujarnya.
Sementara, Ketua Umum FKA ESQ, Ary Ginanjar berharap, pelatihan ini kelak juga akan berlangsung di tempat-tempat lain. “Saya yakin, alumni ESQ di seluruh Tanah Air akan tergerak untuk melaksanakan kegiatan serupa di daerahnya masing-masing.”
Menurut Ary, apa yang telah dia lakukan diharapkan dapat diikuti alumni ESQ yang hampir mencapai 400 ribu.,“Insya Allah, jika kita melakukannya bersama-sama, ekonomi dan moral bangsa ini akan bangkit,” ujar Ary lagi. (ERWYN KURNIAWAN, RAHMA HAYATI)
Komentar:
Siti Asiyah, Ibu Rumah Tangga, UPK Pramu
Materi ESQ sangat menyentuh dan bermanfaat. Menyadarkan saya tentang kesalahan yang selama ini dilakukan dalam hidup. Mendorong diri kita untuk lebih dekat pada Tuhan.
Engkus, Petani sayur, warga Desa Ciampea, Batu Tulis, Bogor
Saya jadi tahu siapa diri saya dan Tuhan. Saya baru ikutin acara seperti ini. Senang sekali bisa ikut acara kayak gini. Terima kasih sama ESQ.
Ibu Hindun, Penerima dana bergulir
Selama ini saya susah payah membangun perkebunan kecil kacang tanah, sepeninggal suami. Saya mulai dari nol. Saya ingin mengembangkan lebih besar lagi. Kami berharap Allah akan mengetuk dermawan dari Jakarta agar hasil perkebunann meningkat. Semoga bantuan yang diberikan Pak Ary dapat membuat hidup saya semakin baik.
Sumber : Koran Republika
Salam 165
Wassalam
Post a Comment