11 March 2007

Memajukan Bukan Mematikan

Memajukan dunia pendidikan memang menjadi jargon umum di masyarakat. Yach, kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Penambahan Unit Sekolah Baru (USB) di kabupaten Purbalingga jadi contoh nyata betapa berkuasanya naluri "proyek" di dinas pendidikan. Bayangkan apabila 1 USB menghabiskan dana sebesar 1 milyar, berapa dana yang harus dikeluarkan pemkab untuk pembangunan USB saja? belum lagi membayar guru yang kebanyakan masih berstatus honorer.
Sembilan USB siap menerima siswa baru tahun ini, hal tersebut tentu saja menimbulkan persaingan antar sekolah dalam menarik calon siswa. Kini banyak SMP Negeri pinggiran yang sudah lama berdiri harus banting harga alias menerima setiap pendaftar tanpa melihat nilai murni ujiannya. Lebih menyedihkan lagi bagi sekolah swasta yang semakin berkurang peminatnya. Pembukaan USB ternyata sebuah ancaman bagi sekolah lama. Dalam harian Suara Merdeka, Kepala Diknas berujar bahwa pembangunan USB bertujuan mendekatkan sekolah dengan calon siswanya. Nyatanya ada desa yang sudah ada sekolah swasta, dibangun pula USB. Jaraknya pun tak terlalu jauh. Bukankah hal ini proses mematikan bukan memajukan. Alangkah bijaksana apabila Diknas mendukung sekolah swasta dengan program perbaikan yang bagus tanpa harus merepotkan diri membangun sebuah sekolah di sampingnya dengan biaya yang jauh lebih besar.
Bagaimana dengan sekolah yang berada di kota ? kurang lebih sama. SMP Negeri di perkotaan cenderung melakukan strategi menambah kelas baru. Tentu saja dengan melihat banyaknya peminat dan prospek penerimaan dananya. Kelas baru pun tentu dengan kreatif dipermak menjadi kelas imersi, dan unggulan sehingga kelihatan "nggaya" padahal ya sama saja. Dilihat dari SDM pengajarnya pun "sulit" untuk memenuhi harapan kelas imersi murni karena kita tahu bahwa tidak semua guru mampu berbahasa Inggris.
Perlu sebuah strategi bagi sekolah swasta untuk membendung serbuan sekolah negeri. Nilai plus sekolah swasta terdapat pada fleksibilitas dalam menentukan program sekolah. Dengan fleksibilitas itulah seharusnya mampu membuat terobosan yang jauh lebih baik. Banyak sekolah Islam Terpadu yang bermunculan dengan metode pembelajaran alternatif yang sangat berbeda dengan sekolah negeri. Mereka bahkan menjadi sekolah unggulan di wilayahnya. Inilah yang harus ditiru oleh sekolah swasta lainnya. Saatnya sekolah swasta bicara "kita akan memajukan pendidikan dengan semangat keikhlasan" (dan bukan untuk sebuah proyek)

No comments: